KITAB
SUCI +Deuterokanonika |
|
| Katekismus Gereja
Katolik | |
|
11. St. Anisetus (155-166)
Anisetus lahir di Syria, Asia Kecil. Ia terpilih menjadi paus pada tahun 155. Ketika ia memimpin Gereja, ia pernah menerima Polycarpus, Uskup Smyrna yang dating ke Roma untuk membicarakan tanggal hari raya Paskah. Yang tidak sama di seluruh Gereja. Sikapnya yang arif terhadap perselisihan antara Gereja di Asia Kecil dengan Gereja lainnya tentang tanggal perayaan PAskah membuat namanya dikenal luas di seluruh Gereja. Di negeri asalnya, hari raya Paskah dirayakan setiap tanggal 14 bulan Nisan sesuai kalender hari raya orang Yahudi. Kebiasaan yang diwariskan Santo Yohanes Rasul dan Santo Philipus Rasul ini menyebabkan hari raya Paskah jatuh pada hari yang tidak menetu. Pada masa itu, kematian Yesus lebih ditekankan daripada kebangkitan Yesus. Sebaliknya, di Gereja-gereja lain, hari raya PAskah dirayakan pada hari Minggu sesudah tanggal 14 Nisan, karena pada hari inilah Yesus bangkit dari kuburNya. Di sini kebangkitan Yesus lebih diutamakan daripada kematianNya. Kecuali itu, perayaan PAskah bertujaun pula untuk membaharui penghayatan iman dan khidupan rohani umat Kristen.
Masing-masing Gereja memegang kebiasaan dan pendiriannya, bahkan dengan tegas membela tradisinya. Paus Anisetus menyerahkan perselisihan ini kepada Penyelenggaraan Ilahi. Keputusannya untuk mengunggulkan salah satu kebiasaan ditunda hingga perselisihan itu mereda. Atas doa dan imannya yang teguh maka perselisihan dalam tubuh Gereja dapat diselesaikan dengan damai. Lalu perayaan Paskah pada hari Minggu lama kelamaan diterima di Gerja Asia Kecil.
Banyaknya kesulitan yang dialaminya selama masa kepemimpinannya, menyebabkan ia mengalami bermacam-macam penyakit. Meskipun ia tidak mati dibunuh, namun demi kesatuan Gereja dan tegaknya ajaran iman yang benar, maka penderitaannya sedemikian banyak. Ia wafat pada tahun 166 dan dinyatakan sebagai martir.
|